Maret 2, 2024

Liputan6.com, Jakarta Presiden Habibie Institute for Democracy, Economic and Ecology, Didik J Rachbini, menilai tujuan pembangunan ekonomi yang diusung calon presiden (Capres) akan sulit tercapai. Diketahui, hampir semua orang memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 7 persen.

Didik menargetkan perekonomian Indonesia hanya tumbuh di kisaran 5%. Hal ini berlaku pada tahun ini dan tahun depan.

“Tahun ini, tahun depan tidak tumbuh 5 persen, tumbuh di bawah 5 persen. Kalau di bawah 5 persen tidak akan kemana-mana,” kata Didik dalam diskusi publik di Habibie Institute, Jakarta, Selasa. (6/2/2024)

Ia mengatakan, tujuan pembangunan ekonomi yang ditetapkan akan menentukan arah Indonesia menjadi negara maju.

Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan tingkat PDB Indonesia sebesar USD 10.000. Namun saat ini PDB Indonesia hanya sekitar 4800 USD.

“Untuk menjadi negara maju, negara yang keluar dari jebakan pendapatan menengah membutuhkan US$10.000. Ibarat sekarang, diprediksi 50 tahun, 40 tahun, tergantung siapa yang meramalkan. Jadi harus naik 6,5 persen, seperti di era SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) 6,5 persen, tapi ketika harga komoditas naik tinggi sekali, langsung naik 6,5 persen. Tapi begitu hilang, hilang,” jelasnya.

Ia pun membandingkannya dengan angka pertumbuhan ekonomi pada masa kepemimpinan Soeharto. Saat itu, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 7-8%. Menurutnya, angka tersebut sulit dicapai ke depan.

“Kuncinya mana? Kalau ekonomi tumbuh 6-7 persen, industri tumbuh 10 persen, 11 persen, ekspor 25 persen ya walaupun bunganya tinggi, bunganya waktu itu 15 persen, tapi karena cepatnya (financial return), bunga itu bisa diimbangi dengan pertumbuhan bisnis yang tinggi,” jelasnya

Melihat situasi saat ini, Didik mengatakan sulit mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi bagi presiden terpilih. Mengingat besarnya PDB Indonesia saat ini juga rentan terhadap kemiskinan.

“Nah, tidak akan seperti itu lagi. Di era Pak Prabowo atau Anies, atau siapa pun yang terpilih nanti, dia akan kesulitan mewujudkan visi dan misinya untuk maju,” tegasnya.

“Saat ini (PDB kita) US$4.800, rentan US$4.800, akan banyak kemiskinan, seperti negara-negara Amerika Latin menjadi banana republic yang akan terus naik turun,” lanjutnya.

Ia berkaca pada masa lalu ketika perekonomian Indonesia bisa tumbuh sebesar 7 persen. Cara tersebut didukung oleh rencana sistematis yang disusun pemerintah.

“Yah, saya global saja, itu akan sulit dilakukan, karena saat itu berhasil di angka 7 persen? Itu rencana pemerintah yang sistematis, yaitu penyesuaian struktural yang dilakukan, yang sebenarnya banyak dikritik, dimana upaya seluruh upaya ekonomi bertujuan untuk mampu bersaing secara internasional,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *