Maret 2, 2024

JAKARTA – Fenomena alam terbaik selalu ditampilkan dari luar angkasa. Satelit cuaca Jepang menangkap gambar awan malam yang indah.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mempertahankan akun X untuk citra dan data satelit, lapor Forbes, Sabtu (27/1/2024). NOAA telah membagikan video awan nokturnal yang akan muncul pada tahun 2024. 17 Januari dilihat oleh satelit Himawari 9.

Video tersebut memperlihatkan kelengkungan Bumi melawan kegelapan luar angkasa dengan Antartika di bawahnya. Awan normal muncul pada gambar di bawah. Awan malam yang indah menjulang seperti hantu bersisik. “Awan tipis, bergelombang, berwarna biru-putih, terdiri dari kristal es, paling baik dilihat saat senja di garis lintang kutub. Awan ini terbentuk sekitar 50-60 mil di atas permukaan bumi,” tulis NOAA.

Fenomena ini terlihat pada perkembangan awan malam, ketika kristal es terbentuk pada partikelnya.

Awan bersinar di malam hari juga dapat ditemukan di bagian lain Tata Surya. Penjelajah Curiosity NASA pada tahun 2021 Mars memperhatikan awan yang dipenuhi kristal es. Perbedaannya adalah awan tinggi di Mars kemungkinan besar terdiri dari karbon dioksida beku, seperti es kering di Bumi.

“Jika dilihat setelah matahari terbenam, kristal esnya menangkap cahaya yang memudar, membuatnya tampak bersinar di langit yang semakin gelap,” tulis NASA.

Awan cerah di malam hari merupakan fenomena langka. Mereka sebagian besar terlihat di wilayah kutub, namun juga terlihat di tempat lain. NASA menelusuri deskripsi tertulis tentang awan malam hari hingga abad ke-20. pada akhir tahun, beberapa tahun setelah gunung berapi Krakatau di Indonesia meletuskan abu ke atmosfer.

“Awalnya orang mengira itu adalah efek samping dari gunung berapi, tapi ketika abu Krakatau mengendap, meninggalkan awan bersisik yang bersinar,” kata NASA.

Badan antariksa mempelajari awan eter di planet kita melalui misi satelit Aeronomy of Mesospheric Ice (AIM). AIM diluncurkan pada tahun 2007. dan mengirimkan data hingga tahun 2023. dimulai ketika mengalami masalah baterai dan misi dibatalkan. AIM bertujuan untuk memahami apakah variasi awan mesosfer, yang juga dikenal sebagai awan mesosfer kutub, terkait dengan perubahan iklim dan untuk memahami lebih jauh mengapa awan tersebut terbentuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *