Februari 26, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Para pemangku kepentingan kelapa sawit di Indonesia diharapkan mampu menciptakan situasi pasar yang kondusif. Hal ini bertujuan untuk memperbanyak produk turunan atau produk hilir kelapa sawit.

“Sawit tidak harus (dikelola) beberapa kementerian untuk diatur. Tapi diberikan ke satu badan (dikelola). Itu regulator yang bertanggung jawab langsung ke presiden. Kementerian lain hanya mendukung tapi tidak perlu. menjadi pengambil keputusan,” ujar Sahat Sinaga, Pj Ketua Dewan Kelapa Sawit Indonesia (DMSI) “Perkembangan Industri Hilir Sawit di Bandung dan Kontribusinya Terhadap Perekonomian Indonesia” saat menjadi pembicara pada Jurnalis Industri Hilir Sawit Bengkel. , Kamis (1/2/2024).

Menurut Sahat, jika badan pengelola industri sawit operasional dan konsisten, maka produk sawit di Indonesia tidak bisa mengalahkan Malaysia.

Saat ini Indonesia yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 16,8 juta hektar hanya memiliki 179 jenis tanaman kelapa sawit. Sedangkan Malaysia yang hanya memiliki lahan kelapa sawit seluas lima juta hektar, sudah memiliki 260 varietas turunan kelapa sawit.

Selain itu, Malaysia sudah memproduksi tocotreanol yang diekstrak langsung dari minyak sawit. Dan satu kilogram tokotreanol berharga sekitar 800 USD.

Sahat menjelaskan mengapa prestasi Malaysia melampaui Indonesia. Menurutnya, karena pengusaha sawit di Malaysia aman.

“Tidak ada satpam yang tiba-tiba masuk ke perusahaan, tidak ada rombongan pemuda setempat yang datang, pengawas tetap dan tidak berganti-ganti,” kata Sahat.

Sementara keadaan di Indonesia berbanding terbalik dengan Malaysia. Jadi investor takut masuk. Memang benar, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar.

Sahat juga mengatakan jika inovasi pengolahan produk kelapa sawit diperbarui, maka total bisnis kelapa sawit pada tahun 2028 bisa bernilai $107,02 miliar atau sekitar Rp. 15 ribu triliun. Pertumbuhan bisnis industri kelapa sawit diperkirakan meningkat sebesar 70,1 persen.

“Yang utama adalah melakukan penanaman kembali seluas 485.000 hektar per tahun. Petani harus dikembangkan, bukan dihancurkan. Jadi, Anda butuh bantuan. Kemudian gunakan biomassa. Satu ton minyak sawit bisa mengandung 8-9 ton biomassa. Rapeseed 1 ton biomassa. “Kami punya banyak, tapi tidak kami manfaatkan,” kata Sahat.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Dana Tanaman Kelapa Sawit (BPDPKS) Achmad Maulizal Sutavijaya mengatakan pihaknya mendukung pengembangan sektor hilir industri kelapa sawit.

“Dukungan ini tidak hanya terbatas pada pengembangan hilir saja, tetapi juga mencakup upaya serius untuk mengatasi isu-isu negatif seputar industri kelapa sawit,” kata Maulizal.

Ada sejumlah langkah spesifik yang diungkapkan Maulizal. Termasuk mendukung penelitian, memantau secara ketat penerapan prinsip berkelanjutan dan berpartisipasi aktif untuk memastikan industri ini berkontribusi terhadap pembangunan.

“Pentingnya aspek keberlanjutan dalam industri kelapa sawit tidak hanya dilihat sebagai sebuah tanggung jawab, namun juga merupakan peluang untuk meningkatkan citra masyarakat terhadap industri kelapa sawit,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *