Februari 26, 2024

Liputan6.com, Jakarta Jelang pemilu atau pemilu 2024, masyarakat menaruh harapan besar terhadap calon presiden (Capres) yang mendengarkannya.

Harapan tersebut datang dari berbagai bidang, salah satunya kesehatan. Di antara banyak masalah kesehatan yang ada, ahli epidemiologi Dicky Budiman memilih penyakit tropis terabaikan (NTDs). Ia ingin para pemimpin masa depan Indonesia mempertimbangkan hal ini.

“Ini (NTD) harus menjadi perhatian calon presiden atau pemimpin masa depan. Kuncinya adalah komitmen para pemimpin, baik pemimpin nasional maupun pemimpin kesehatan yang perlu mewaspadai permasalahan tersebut. dan apa yang harus menjadi prioritas,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com melalui pesan suara, tertanggal Jumat (2/2/2024).

Kita perlu membicarakan NTD karena jika penyakit ini terus diabaikan maka Indonesia akan menjadi negara terbelakang dalam bidang kesehatan.

“Itu harus didorong, apalagi di masa kampanye seperti ini,” kata Dicky.

Sebelumnya, tanggal 30 Januari 2024 diperingati sebagai Hari Penyakit Tropis Terabaikan Sedunia. Dalam kesempatan itu, Dicky menjelaskan, NTD merupakan penyakit yang umum terjadi di negara-negara tropis, baik negara miskin maupun negara berkembang.

Penyakit tropis dapat terabaikan di negara ini karena kurangnya intervensi dan teknologi.

“Negara-negara miskin atau berkembang dengan sedikit intervensi, sedikit teknologi, banyak masyarakat miskin, banyak yang terlantar. Bukan hanya penyakitnya, tapi juga masyarakatnya yang terlantar. “

Menurut Dicky, hal ini menjadi tugas besar di Indonesia karena penyakit masih terabaikan.

“Ini tugas besar bagi Indonesia karena menurut saya sayang sekali kita sebagai ketua G20, kita juga negara besar di ASEAN dan dunia, tapi kita tetap “menyelamatkan” dan mengabaikan penyakit-penyakit tersebut. “, jelas Dicky.

Pengabaian penyakit kronis harus diatasi karena jika tidak ditangani akan berdampak pada biaya perawatan kesehatan.

“Hal ini, tidak diragukan lagi, berdampak besar pada kesehatan masyarakat, biaya ekonomi dan sosial karena dapat menempatkan masyarakat kita dalam kondisi yang sangat buruk. Baik dari segi kesehatan dan kualitas hidup.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sama telah mengumumkan daftar penyakit terabaikan, yang totalnya ada 21 jenis.

Sayangnya, lanjut Dicky, dari 21 jenis penyakit terabaikan yang ada di Indonesia, 11 diantaranya berada di Indonesia.

“Ini sangat menyedihkan dan membuat kita khawatir, ini menunjukkan kita masih kurang peduli terhadap kualitas pembangunan kesehatan kita. “Kami masih sedih karena jarak kami sangat jauh dengan negara tetangga seperti Australia, Singapura, atau Malaysia yang NTD-nya lebih sedikit.

Jika fokus pembangunan kesehatan dibiarkan kecil dan terfragmentasi, serta kurangnya perhatian dan komitmen politik, maka permasalahan tersebut dapat terus terjadi. Dan itu persoalan yang terus dibesar-besarkan, kata Dicky.

Sebelumnya Dicky juga menyebarkan 11 jenis penyakit terabaikan di Indonesia, yaitu: cacing parasit, filariasis limfatik (kaki gajah), cacing pita, schistosomiasis (demam), taenia/sistiserkosis. Akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) virus rabies Chikungunya. Karena bakteri kusta (kusta) Rahang. Akibat gigitan ular memang menyakitkan. Pengaruh ektoparasit kudis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *