Maret 1, 2024

Liputan6.com, Jakarta Menyusul peningkatan kasus COVID-19 di Singapura dan Malaysia, kini terjadi pula peningkatan kasus di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan beberapa pakar kesehatan, salah satunya Zubairi Chorban. Menurutnya, kasus COVID-19 di Tanah Air meningkat 80% sejak 28 November hingga 2 Desember.

“Kabar peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia akhirnya tiba. Antara 28 November hingga 2 Desember 2023, jumlah kasusnya meningkat 80%, tepatnya 267 kasus,” Health Liputan6.com menghubungi Zubairi. Rabu sesudahnya dia tweet dengan centang biru @ProfesorZubairi (12 Juni 2023).

Ia menambahkan, banyak orang yang menjalani tes independen dinyatakan positif. Akibatnya, data tersebut tidak masuk ke database Departemen Kesehatan dan seringkali tidak dilaporkan atau tidak dilaporkan sama sekali.

Pria yang akrab disapa Profesor Berry ini melanjutkan, terkait subvarian virus yang dominan di Singapura, yakni EG.5, tidak ada gejala yang berbeda secara signifikan dengan varian lainnya. hidung, sakit tenggorokan, bersin.

Varian ini juga lebih banyak menyerang saluran pernafasan bagian atas dan jarang sampai ke paru-paru. Angka kematiannya juga rendah. Pelayanan rumah sakit di Indonesia tidak meningkat, kata anggota Dewan Pembina Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. (PB IDI). “

Ketua Satgas COVID-19 PB IDI Profesor Erlina Burhan mengatakan, kasus COVID-19 memang semakin meningkat di Indonesia.

“Sekarang banyak yang bertanya-tanya: apakah di Indonesia juga terjadi peningkatan kasus? Jawabannya iya,” kata Elrina dalam konferensi pers online, Rabu (12 Juni 2023).

“Kalau kita lihat, pada 2-8 Oktober ada 65 kasus terkonfirmasi dan 20-26 November ada 151 kasus. Jadi kalau kita lihat dari Oktober sampai November, itu meningkat dua setengah kali lipat,” imbuhnya.

Elena melanjutkan, tidak ada kematian yang dilaporkan pada bulan Oktober. Sementara itu, pada November lalu, satu orang dinyatakan meninggal dunia setelah tertular COVID-19.

Elena menambahkan, peningkatan kasus tidak menyebabkan peningkatan rawat inap di fasilitas kesehatan.

“Bagaimana dengan rawat inap? Tidak banyak rumah sakit yang melaporkan kasus rawat inap. Baru-baru ini terjadi dua kali rawat inap di RS Dokter Soetomo Surabaya. Sementara laporan dari Jawa Barat menyebutkan, pada bulan September hingga November, tingkat keterisian tempat tidur (hospital bed occupancy rate) meningkat. kurang dari 3%. “

Dengan begitu, Elena menyimpulkan kenaikannya tidak tinggi. Namun, ia menyayangkan permasalahan masyarakat yang menunjukkan gejala COVID-19 namun tidak bersedia dites.

“Beneran, pertama-tama karena tesnya nggak gratis lagi. Mereka juga merasa ‘oh cuma batuk-pilek aja, ngapain mau tes? Nanti bikin stres,’ hal-hal seperti itu.” “

Berry juga meminta masyarakat untuk melakukan vaksinasi mengingat peningkatan kasus.

“Kalau Anda belum divaksin atau sudah lama sekali sejak terakhir kali divaksin, Anda bisa mendapatkan vaksinasi,” kata Berry.

Harap dicatat bahwa vaksin akan tetap gratis hingga akhir tahun ini. Sayangnya, Berry menemukan beberapa klinik belum memiliki vaksin tersebut.

“Pemerintah sendiri mengatakan bahwa vaksin akan tetap gratis hingga Desember. Namun, saya tidak melihat adanya vaksin yang tersedia ketika saya mengunjungi beberapa klinik. Mungkin mereka bisa membantu saya dan memberi tahu saya klinik mana yang bisa memberikan vaksin,” ujarnya.

Terkait permasalahan instansi kesehatan yang tidak mampu menyediakan vaksin, Erlina mengatakan pihaknya harus menyurati pemerintah untuk fokus pada pengadaan vaksin.

“Mungkin kita bisa membantu masyarakat dengan menyurati pemerintah dan fokus pada pengadaan vaksin ini oleh puskesmas, khususnya puskesmas atau puskesmas, klinik atau rumah sakit milik pemerintah,” kata Elina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *