Maret 4, 2024

Liputan6.com, Jakarta – Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam beberapa tahun terakhir mendorong upaya transformasi digital. Langkah ini diambil untuk mendukung perilaku pelanggan yang semakin bergantung pada layanan digital dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Ajutorius Pinem, Vice President Pengembangan Layanan Aplikasi Operasional, Divisi Manajemen dan Operasional Aplikasi BRI, transformasi telah dilakukan BRI sejak tahun 2017. Transformasi tersebut dilakukan pada dua aspek perusahaan, yaitu; Budaya dan aspeknya. digital.

Sejalan dengan tujuan tersebut, BRI juga telah melakukan sejumlah hal untuk mendukung transformasi digital perusahaan. Transformasi ini dilakukan perusahaan baik secara internal maupun eksternal, mendukung visi BRI untuk menjadi grup perbankan paling bernilai di Asia Tenggara dan pelopor inklusi keuangan pada tahun 2025.

Transformasi digital ini juga dilakukan untuk mendukung perubahan perilaku nasabah. Karena di era digital saat ini, nasabah semakin sadar akan digital, sehingga BRI juga harus mengikuti perkembangan nasabah, kata Aju kepada Tekno Liputan6.com.

Salah satu langkah transformasi digital yang dilakukan BRI kepada nasabahnya adalah dengan diluncurkannya aplikasi BRImo pada tahun 2019 sebagai salah satu Whatsapp milik BRI. Kehadiran aplikasi ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang semakin banyak dikaitkan dengan penggunaan smartphone.

Perubahan perilaku masyarakat ini juga secara tidak langsung berkontribusi terhadap peningkatan adopsi BRImo. Oleh karena itu, dalam melakukan perubahan tersebut, BRI mempunyai tantangan untuk mampu memberikan layanan yang dapat diandalkan kepada nasabah.

“Jadi dari awal kami berusaha memberikan pelayanan yang sama dengan yang kami berikan di cabang. Biar masyarakat lebih mudah mengadopsinya. Kenapa? Karena mereka tidak perlu antri (di kantor) lagi.” dia berkata

Dengan begitu, nasabah yang mempunyai pengalaman langsung menggunakan mobile banking dan merasa nyaman menggunakannya, akan segera beralih ke digital. Untuk itu BRI senantiasa memastikan layanan yang diberikan mampu memenuhi kebutuhan nasabah.

Oleh karena itu, BRImo sejak pertama kali dikembangkan, BRI bertujuan untuk memastikan bahwa aplikasi ini dapat mendukung pertumbuhan transaksi yang tinggi. Dan terbukti hasilnya, layanan BRImo saat ini terbukti sesuai dengan kebutuhan nasabah meski aktivitasnya cukup tinggi.

Sebagai gambaran, jika melihat data perbankan November 2023, BRImo disebut-sebut memiliki pertumbuhan jumlah pengguna tertinggi, yakni mencapai 70 persen dibandingkan bank lain.

Hingga awal Desember 2023, aplikasi BRImo telah mencatatkan volume transaksi penjualan sekitar Rp3,7 triliun dengan jumlah pengguna aktif kini mencapai hampir 30 juta akun.

“Ini yang menjadi tantangan bagi kami, bagaimana melayani begitu banyak pelanggan dengan pelayanan yang dapat diandalkan. Karena jika melihat referensi eksternal, memang tidak banyak perusahaan yang bisa melayani pelanggan sebanyak kami,” ujar lulusan UGM ini.

Kepuasan pelanggan terhadap aplikasi ini juga terlihat dari rating yang diterima BRImo. Menurut Aju, rating yang diberikan pengguna BRImo melalui app store untuk setiap sistem operasi smartphone termasuk yang tertinggi, rating BRImo di Apple Store berkisar 4,7 dan Play Store 4,5.

Tak hanya itu, kehadiran BRImo juga mendorong loyalitas nasabah. “Jadi semakin banyak produk yang kami tawarkan dan semakin mudah bertransaksi, maka semakin loyal pula pelanggan kami,” ujarnya.

Di sisi lain, tingginya jumlah transaksi di aplikasi BRImo juga dapat memberikan pendapatan baru bagi BRI yang sebelumnya ditopang oleh kredit dan layanan perbankan lainnya. Sebab, volume transaksi yang tinggi turut mendorong pertumbuhan pendapatan perseroan.

Dalam pengembangan layanan BRImo, kata Aju, BRI menggunakan solusi open source dari Red Hat. Open source dipilih karena memiliki komunitas yang besar, sehingga perusahaan dapat memperoleh tambahan pengalaman dalam komunitas ini.

Solusi yang digunakan BRI adalah platform Red Hat OpenShift.

“Platform ini dipilih karena sesuai dengan tujuan perusahaan yaitu melakukan transformasi tradisional ke digital,” ujarnya.

Menurut BRI, layanan digital akan semakin memudahkan pelayanan nasabah. Hal ini tentunya akan berdampak pada pertumbuhan nasabah yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga BRI memerlukan teknologi untuk mendukungnya.

Dalam hal ini RedHat disebut mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Aju mengatakan solusi Red Hat memiliki fitur yang memungkinkan waktu pengiriman produk lebih cepat dan fleksibel serta keamanan yang andal.

“Platform Red Hat juga menyediakan fitur-fitur yang memudahkan kami, termasuk dalam hal keamanan. Sehingga proses pengembangan tidak mudah dihadang, dan mudah diubah,” jelas Ajo.

Keamanan yang kuat pada platform sumber terbuka

Dalam kesempatan yang sama, Vony Tjiu, country manager Red Hat Indonesia, mengatakan salah satu keunggulan open source adalah kemudahan talent. Karena platform open source memiliki kemampuan dan kekuatan berbagi komunitas.

Selain itu, menurutnya kemudahan memperoleh talenta juga mendorong percepatan inovasi perusahaan. Sementara dari segi keamanan, platform open source juga memberikan keamanan sebagai landasan.

BRI sendiri baru saja meraih penghargaan Red Hat APAC Innovation Awards 2023. Perusahaan ini mendapatkan penghargaan pada kategori Digital Transformation dan Cloud Native Development.

Keberhasilan BRI meraih penghargaan ini tidak lepas dari dampak yang mereka peroleh setelah melakukan transformasi digital. Mengingat BRI dengan volume transaksinya yang besar secara tidak langsung mendukung percepatan ekonomi digital Indonesia.

“Kami melihat dampak yang diberikan BRI melalui BRImo dalam menggunakan teknologi ini untuk mendukung bisnis,” kata Voni.

Selain itu, dengan banyaknya pengguna, perubahan yang dilakukan BRI juga berdampak besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *