Februari 26, 2024

Liputan6.com, Depok Ketersediaan perawat onkologi di Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara lain. Padahal pendidikan keperawatan onkologi bisa dikatakan baru mulai dijajaki di Indonesia, seperti yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) yang menghasilkan lulusan angkatan pertamanya.

Saat ini Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mempersiapkan pembukaan program pelatihan keperawatan onkologi. Permasalahan perawat onkologi adalah tidak banyak universitas dan kampus yang membuka program pelatihan khusus ini.

Lantas, apa saja kebutuhan perawat onkologi di Indonesia?

Direktur Jenderal Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais Soeko Werdi Nindito tidak menjawab secara spesifik berapa spesifik jumlah kebutuhan perawat onkologi di setiap daerah atau rumah sakit di Indonesia.

Namun menurut perhitungan, 20-30 tempat tidur kanker membutuhkan perawat onkologi.

“Kedepannya kalau kita melihat kebutuhan saat ini, dokter spesialis onkologi akan membutuhkan 100-150 tempat tidur. Khusus perawat onkologi saja yang dibutuhkan 20-30 tempat tidur. Jadi, 20-30 tempat tidur perlu perawat onkologi. Lebih lanjut,” kata Soeko dalam wawancara Health Liputan6.com di Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/12/2023).Jumlah dokter spesialis onkologi sangat sedikit.

Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta adalah salah satu penyedia layanan kanker terkemuka di Indonesia.

“Kami mempunyai tanggung jawab dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memastikan pelayanan kesehatan di wilayah tersebut berjalan dengan baik, khususnya rumah sakit,” kata Soeko.

“Tentu saja kami mengukur kebutuhan perawat karena banyaknya layanan kanker di daerah tersebut.

Organisasi multistakeholder pemerintah dan swasta, yang meliputi Pusat Kanker Nasional, Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD), Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI), Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (HIMPONI) dan Roche Indonesia mulai tahun 2021 memperkuat keterampilan perawat onkologi.

Pada bulan Agustus 2023, organisasi ini telah menghasilkan 125 perawat dasar bersertifikat dan 25 Pelatihan Keperawatan Onkologi Dasar ToT bersertifikat, dan 56 perawat menerima kursus pelatihan onkologi.

Empat diantaranya menyelesaikan peminatan Keperawatan Onkologi di Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia pada akhir Juli 2023.

Kerja sama tersebut kemudian diperluas dengan melibatkan Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat (FKKMK) Universitas Gadjah Mada untuk membuka program pelatihan onkologi di UGM.

Presiden Persatuan Onkologi Indonesia, Cosphiadi Irawan mengatakan, pendidikan onkologi di Indonesia memiliki sejarah yang panjang.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melatih perawat menjadi dokter onkologi? Pertama sarjana, kemudian master onkologi dua tahun, spesialis satu tahun. Ya, butuh waktu lama untuk mendidik dokter onkologi. (perawat ) ,” kata Cosphiadi.

Pelatihan onkologi merupakan perjalanan yang luar biasa bagi Cosphiadi.

“Bagus untuk perawat onkologi, saya melihat peluang.

“Kemudian bicara dan koordinasi dengan rekan-rekan kedokteran, radio nuklir, rekan diagnostik. Perlu perawat khusus

Peran perawat onkologi dalam penanganan pasien juga penting.

“Tanggung jawabnya apa? Kita bicara masalah onkologi anak, kita bicara onkologi pada lansia, lalu jenis terapi transplantasi organ. Keperawatan khusus,” tutup Cosphiadi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Indonesia berupaya mempercepat ketersediaan perawat spesialis onkologi di Indonesia untuk mendukung layanan onkologi yang berfungsi dengan baik.

“Karena kami tidak ingin semakin banyak masyarakat yang ke luar negeri untuk berobat onkologi dan kalau bisa berobat di sini, tentu banyak masyarakat Indonesia yang bisa kami bantu,” kata Direktur Tenaga Kesehatan Kementerian RI. Arianti Anaya Health di Jakarta, Jumat (11/8/2023).

Peningkatan ketersediaan perawat spesialis onkologi diperlukan mengingat banyaknya kasus kanker di Indonesia.

Terdapat sekitar 340.000 penderita kanker baru – dari semua jenis kanker – di Indonesia sehingga penting untuk menambah jumlah tenaga kesehatan untuk mendukung program Pemerintah dalam mencegah dan mengobati kanker.

“Program pengobatan kanker kami mulai tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga menular melalui pelatihan, dengan bertambahnya jumlah ahli onkologi yang kini kami dorong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *