Maret 4, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saat makan bersama teman atau keluarga, terlihat selera makanan setiap orang berbeda-beda. Ada yang tidak suka masakan pedas, atau ada juga yang tidak bisa makan makanan kambing.

Apa yang membuat rasa makanan berbeda? Peneliti sekaligus pakar ilmu sensorik, rasa, dan konsumen, Nicholas Archer, menjelaskan bahwa rasa merupakan sistem kompleks yang dikembangkan manusia untuk menavigasi lingkungan.

“Ini membantu kita memilih makanan bergizi dan menolak segala sesuatu yang berpotensi membahayakan,” kata Archer, seperti dikutip Science Alert, Kamis (30/11/2023).

Makanan terdiri dari berbagai senyawa, termasuk nutrisi (seperti protein, gula, dan lemak) dan bau, yang terdeteksi oleh sensor di mulut dan hidung. Sensor-sensor ini menciptakan rasa makanan.

Meskipun rasa adalah apa yang dirasakan oleh lidah, rasa juga merupakan kombinasi dari indera lainnya. Selain tekstur, penglihatan, dan suara, indra-indra ini bersama-sama memengaruhi preferensi makanan seseorang.

Archer mengatakan banyak faktor yang mempengaruhi preferensi makanan, termasuk usia, genetika, dan lingkungan. Setiap orang memiliki dunia sensoriknya masing-masing, dan tidak ada dua orang yang memiliki pengalaman yang sama saat makan.

Preferensi makanan juga berubah seiring bertambahnya usia. “Penelitian menunjukkan bahwa anak kecil secara alami lebih menyukai rasa manis dan asin serta tidak menyukai rasa pahit. Seiring bertambahnya usia, kemampuan mereka untuk menyukai makanan pahit meningkat,” kata Archer.

Bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa bakteri dalam air liur dapat menghasilkan enzim yang mempengaruhi rasa makanan. Misalnya, air liur terbukti menyebabkan keluarnya bau asam sulfat pada kembang kol. Semakin banyak belerang yang dihasilkan, semakin kecil kemungkinan anak-anak menikmati rasa kembang kol.

Baik genetika maupun lingkungan memainkan peran penting dalam menentukan preferensi makanan. Studi kembar memperkirakan bahwa genetika memiliki pengaruh sedang terhadap preferensi makanan (antara 32-54 persen, tergantung jenis makanannya) pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

Namun, karena lingkungan budaya dan makanan yang dikonsumsi juga membentuk preferensi, maka preferensi ini telah dipelajari secara luas. Sebagian besar pembelajaran ini terjadi di masa kanak-kanak, di rumah, dan di tempat lain saat seseorang makan.

“Ini bukan pembelajaran buku teks, tapi melalui pengalaman makan, yang biasanya mengarah pada peningkatan selera terhadap makanan atau melihat apa yang dilakukan orang lain, yang bisa menghasilkan asosiasi positif atau negatif,” kata Archer.

Sumber: Peringatan Sains

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *