Maret 3, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kekerasan terhadap anak masih menjadi permasalahan serius yang terus berlanjut dan memerlukan perhatian berbagai pihak. Pribudiarta Nur Sitepu, Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), mengatakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melakukan survei nasional setiap tahunnya. tiga tahun. .

Data survei tahun 2021 dan 2018 menunjukkan adanya penurunan jumlah kasus kekerasan pada anak. Namun totalnya masih mencapai puluhan juta.

“Kasus kekerasan terhadap anak yang diamati selama ini ibarat puncak gunung es. Secara keseluruhan, masalah kekerasan terhadap anak tidak muncul di Indonesia,” kata Pribudiarta dalam konferensi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9). Topik “Negara hadir untuk menangani darurat pelecehan anak” pada Senin (13/11/2023).

Berdasarkan data tahun 2021, empat dari sepuluh anak perempuan dan tiga dari sepuluh anak laki-laki mengalami kekerasan fisik, psikis, atau seksual. Selain itu, pelaku kekerasan seringkali adalah orang-orang yang mereka kenal, termasuk orang tua mereka sendiri.

Survei ini juga mengidentifikasi faktor-faktor seperti kemiskinan, kesenjangan sosial dan disabilitas sebagai orang tua sebagai faktor kunci. Pandemi Covid-19 juga diidentifikasi sebagai pemicu tambahan, karena orang tua terpaksa menjadi guru selama periode pembelajaran jarak jauh, sehingga membebani dinamika keluarga.

“Faktor kesehatan mental juga semakin penting dan semakin memperumit masalah kekerasan terhadap anak,” ujarnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa peran orang tua dan pola asuh orang tua dapat menjadi kunci untuk mengurangi kekerasan terhadap anak. “Peran pengasuhan dan pengasuhan anak sangat penting. Saat ini mengasuh anak sudah menjadi pekerjaan besar, mengingat tingginya angka perceraian, beban ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan orang tua,” kata Kepala Inspektur Kementerian Pendidikan. , atau Budaya Chatarina. Muliana.

Menurutnya, penekanan harus diberikan pada peran orang tua dalam pendidikan anak dalam mengekang kekerasan terhadap anak. Orang tua harus membekali anaknya dengan pendidikan karakter sejak dini. Tujuannya agar anak mampu menghargai diri sendiri dan orang lain serta tidak melakukan kekerasan. Pada saat yang sama, orang tua juga harus menjadi panutan bagi anak-anaknya.

Hal ini dilakukan dengan menunjukkan perilaku yang baik tanpa melakukan kekerasan fisik atau verbal. Sebab jika orang tua melakukan kekerasan maka akan membuat anak menganggap hal tersebut adalah hal yang wajar.

“Orang tua sebagai produk masa lalu berperan besar dalam membentuk karakter anak,” ujarnya.

Di sisi lain, Ai Maryati Solihah, Ketua Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyoroti peran orang tua dan pola asuh orang tua dalam kasus kekerasan terhadap anak. Survei KPAI menunjukkan hanya 23 persen orang tua yang mendapatkan pendidikan parenting.

“Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam mempersiapkan peran penting orang tua,” ujarnya.

Meskipun tingkat kekerasan menurun, namun prevalensinya meningkat. Hal ini menunjukkan perlunya upaya bersama dan holistik. Oleh karena itu, Ai menekankan pentingnya saluran pengaduan yang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *