Maret 2, 2024

TUNGGAL – Keberadaan pemain pribumi dan pemain warisan budaya di Indonesia kerap diperbincangkan sebelum istilah “indigenous Pride” diciptakan. Namun, berbeda jauh dengan Jerman dan Prancis yang punya banyak pemain legacy di skuatnya.

Pelatih Jerman U-17 Christian Wouk dan ahli taktik Prancis U-17 Jean-Luc Vanuchy sepakat bahwa memiliki banyak pemain lawas di skuad membawa hal positif, yakni keberagaman. Finalis Piala Dunia U17 2023 adalah Jerman dan Prancis U17. Kedua tim akan melakoni laga terakhirnya pada Sabtu (12/2/2023) di Stadion Manahan, Solo.

Sebelum pertandingan, Wu dan Vannucci ditanyai bersama tentang jumlah pemain yang tersisa di skuad mereka. FYI Jerman dan Perancis adalah rumah bagi banyak gamer dari segala usia.

Misalnya saja di timnas U-17 Jerman ada Paris Brunner yang berdarah Kongo. Ada pula Asan Ouedrago yang berdarah Burkina Faso atau Bilal Yalcinkaya berdarah Turki seperti Mesut Ozil.

Wookey tidak pernah peduli dari mana pemainnya berasal. Malah keberagaman membuat timnya semakin berwarna.

“Tim ini sangat beragam dan para pemain kami memiliki kualitas yang sangat berbeda, yang membuat kami berharga, semua pemain berasal dari Jerman dan memiliki koneksi satu sama lain di Jerman,” kata Wouk dalam konferensi pers. di Solo, Jumat (12 Januari 2023).

Menurut Wuck, banyaknya pemain yang membela timnas adalah hal biasa. Padahal, hal itu sangat berdampak positif bagi perkembangan sepak bola tanah air.

“Di beberapa bagian dunia, sangatlah normal jika banyak orang datang dari negara berbeda dan tinggal di satu negara dan merasa sangat bahagia di negara tersebut,” katanya.

“Dan kita sebagai masyarakat harus belajar melihat sisi positifnya, secara umum ada perubahan positif dalam olahraga ini,” lanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *