Maret 2, 2024

JAKARTA – Kanker paru-paru masih diketahui menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia. Penyakit ini juga bisa terjadi pada orang yang tidak pernah merokok, namun risiko terbesar terjadi pada orang yang merokok. Risiko kanker paru-paru meningkat seiring waktu dan jumlah asap rokok yang dihirup.

Untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai peluang terkena kanker paru, sebaiknya dilakukan pre-screening atau skrining. Namun dibandingkan jenis kanker lainnya, kanker paru cukup sulit dicegah karena memiliki banyak faktor risiko yang tidak dapat dicegah.

“Sudah ada vaksin untuk mencegah kanker serviks yang berhasil dideteksi melalui skrining, namun belum ada vaksin atau skrining untuk kanker paru-paru,” kata dokter. Elisna Syahruddin, Sp.P(K), Ph.D, Direktur Eksekutif Ikatan Indonesia untuk Studi Onkologi Toraks (IASTO), dalam Lungs of Tomorrow Talk: Program Kesehatan Muda Mendorong Skrining Kanker Paru, di Jakarta, Rabu 1 November 2023 .

Menurut dr Elisna, seluruh organ tubuh manusia berisiko terkena kanker. Namun setiap bagian tubuh mempunyai penyebab yang berbeda-beda. Misalnya saja kanker paru-paru yang menyerang saluran pernafasan. Oleh karena itu, segala sesuatu yang mempengaruhi saluran pernafasan merupakan faktor risiko terjadinya kanker paru-paru.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada paparan yang disengaja yang dapat menyebabkan kanker paru-paru, misalnya asap rokok. Baik dari perokok aktif maupun pasif, asap apa pun yang masuk ke saluran pernapasan dapat berdampak buruk bagi kesehatan paru-paru.

Misalnya saja ada paparan asap rokok yang mengandung karsinogen secara sengaja. Paparan asap yang terus menerus akan menyebabkan iritasi dan gangguan pada saluran pernafasan, jelasnya.

Selain itu, paparan yang tidak disengaja misalnya polusi udara, polusi tempat kerja, beresiko terkena kanker paru-paru, seperti pekerja konstruksi yang menghirup polusi dalam jumlah besar dari bahan bangunan yang mengandung zat berbahaya.

Sementara itu, kanker paru juga disebabkan oleh faktor risiko yang tidak dapat dicegah seperti usia, jenis kelamin, dan genetik.

“Faktor risiko yang tidak bisa dicegah misalnya usia. Kanker adalah penyakit penuaan, dan seiring bertambahnya usia, risiko terkena kanker semakin meningkat,” kata dr Elisna.

“Hal ini sering terjadi pada laki-laki karena gaya hidup mereka yang kurang sehat dibandingkan perempuan. Jumlah perokok perempuan di Indonesia masih tergolong rendah,” imbuhnya.

Menurut dr Elisna, banyak penelitian menunjukkan bahwa seseorang lebih mungkin terkena kanker paru-paru bila ada anggota keluarga lain yang mengidap kanker, terutama kanker paru-paru. Produsen Vape RELX Menerima Peringkat Kinerja ESG Global S&P Pertama untuk Industri Rokok Elektrik Peringkat RELX mendapat skor 13 poin di atas rata-rata industri rokok elektrik dibandingkan tahun lalu. kabarbinjai.com.co.id 5 Desember 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *