Maret 2, 2024

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta — Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) melaporkan peringkat hasil pembelajaran literasi Program for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 naik dari lima menjadi enam peringkat. 2018. Peningkatan ini merupakan yang tersukses bagi Indonesia.

“Ini merupakan kenaikan (persentase) capaian tertinggi setelah PISA sepanjang sejarah Indonesia,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadim Anwar Makram di Jakarta, Selasa (12/05/2023).

Lebih detailnya, terkait literasi membaca, peringkat Indonesia pada PISA 2022 naik lima peringkat dibandingkan sebelumnya. Untuk literasi matematika, peringkatnya juga naik lima peringkat, sedangkan untuk literasi sains naik enam peringkat.

Nadim mengatakan kenaikan peringkat tersebut menunjukkan ketahanan sistem pendidikan Indonesia dalam mengatasi learning loss akibat pandemi. Membaiknya posisi Indonesia pada PISA 2022 menunjukkan ketahanan yang baik dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Skor literasi membaca internasional turun 18 poin pada PISA 2022. Sementara skor Indonesia turun 12 poin, lebih rendah dibandingkan negara lain.

Nadim menjelaskan, naiknya peringkat PISA Indonesia disebabkan karena learning loss yang relatif kecil. Menurutnya, hal ini mencerminkan ketangguhan guru dengan dukungan berbagai program penanggulangan epidemi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu faktornya adalah tersedianya akses pembelajaran siswa secara online dengan didukung kuota akses konten online untuk lebih dari 25 juta siswa dan 1,7 juta guru. Faktor lainnya adalah pelatihan guru yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui platform Merdeka Menjar dengan materi pembelajaran daring dan hybrid.

Perkembangan yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan kurikulum baru yang menyederhanakan isi kurikulum sehingga guru dapat lebih fokus dalam pembelajaran khususnya penguatan literasi dan numerasi siswa. Menurut Nadeem, penyederhanaan isi kurikulum efektif mengurangi learning loss karena sekolah yang menggunakan kurikulum darurat mengalami learning loss selama satu bulan dibandingkan lima bulan pada sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 secara penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *