Maret 3, 2024

Liputan6.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja investasi di DKI Jakarta akan terdampak akibat pemilihan umum (Pemilu) 2024. Sebab kondisi tersebut membuat pengusaha atau investor menunggu dan melihat (wait and see).

“Kami melihat kinerja investasi agak tertahan karena dipengaruhi oleh sikap wait and see investor pada masa pra pemilu dan hal ini sesuai dengan pola historis selama ini,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia di DKI Jakarta. . Daerah, Arlyana Abubakar pada seminar Jakarta Outlook 2024, Gedung Heritage, Kantor Bank Indonesia Daerah DKI Jakarta, Rabu (6/12/2023).

Namun, Arleana menilai penurunan tren investasi saat pemilu merupakan hal yang lumrah karena sudah menjadi pola sejarah yang sering terjadi.

Diketahui kinerja investasi DKI Jakarta mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan III tahun 2023, bahkan kinerja investasi wilayah DKI Jakarta menjadi yang tertinggi secara nasional.

Tercatat, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) DKI Jakarta mencapai USD 1,1 miliar atau Rp 16,7 triliun. Sedangkan realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp34,2 triliun.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andriy Asamuro mengakui kinerja investasi kerap terdampak pada pemilu.

Bahkan menariknya, berdasarkan pengamatan Andri, setiap pemilu di Indonesia selalu diawali dengan peristiwa dunia yang negatif.

“Investasi selalu menurun di setiap tahun politik. Menariknya, pemilu kita selalu didahului oleh peristiwa dunia yang tidak menguntungkan. Menarik sekali setelah melihat datanya,” kata Andrey.

Misalnya, pada pemilu tahun 2009, dunia sedang menghadapi krisis keuangan. Oleh karena itu, pemilu tahun 2014 terjadi setelah kemarahan yang memuncak (pada tahun 2013) ketika nilai rupee melemah secara signifikan.

Lagipula, pemilu tahun 2019 juga terjadi pada masa perang dagang Donald Trump. Pada saat yang sama, pemilu tahun depan juga menghadapi kenaikan suku bunga The Fed (FFR).

Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah bagaimana kita menciptakan lingkungan investasi di wilayah DKI Jakarta agar tidak berubah-ubah setiap tahun politik. Jadi ada investasi yang berkelanjutan,” pungkas Andri.

Memasuki tahun 2024, tahun politik dan kondisi moneter global akan menjadi dua isu utama yang mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia pada tahun depan.

Masa pemilu mendatang akan berdampak pada pertumbuhan dan berbagai indikator makroekonomi lainnya, terutama di awal tahun.

Di sisi lain, dunia terus dihantui oleh berbagai risiko dan ketidakpastian. Mulai dari ancaman perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, konflik geopolitik Ukraina-Rusia dan konflik Palestina-Israel, perubahan iklim hingga kenaikan harga komoditas global.

“Prakiraan perekonomian Indonesia selalu menjadi fokus di akhir tahun, tidak terkecuali tahun 2024. “Tahun 2024 tidak hanya membawa tantangan, namun juga peluang besar yang memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia,” – CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani. Dia dikutip mengatakan: Kamis (30/11/2023).

“Dengan diadakannya acara tersebut, kami berharap dapat menjadi sumber informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, peluang investasi dan langkah-langkah strategis yang dapat digunakan baik oleh pemerintah maupun dunia usaha di masa depan,” tambah Johanna.

Bhima Yudhisthira Adinegara, Direktur dan Ekonom Center for Economic and Legal Research (Celios) mengatakan investasi selalu melambat di setiap tahun politik, sedangkan pada tahun 2024 investasi diperkirakan tumbuh positif namun terjadi penurunan sebesar 3%.

“Hal ini dipengaruhi salah satu penyebabnya oleh investor yang masih wait and see, namun ada juga investor yang tetap berinvestasi meski pemilu masih berlangsung, terutama di sektor makanan minuman dan juga otomotif. sektor. sektor ini karena besarnya potensi konsumsi lokal.

Namun, lanjutnya, tantangan yang harus menjadi fokus pemerintah adalah bagaimana menjaga konsumsi rumah tangga untuk mendukung stabilitas perekonomian. Diperkirakan dampak pemilu sendiri hanya berdampak pada 0,3%-0,4% PDB.

“Secara keseluruhan, kinerja ekspor dan investasi Indonesia akan dipengaruhi oleh permintaan Tiongkok, serta situasi politik AS yang akan menyelenggarakan pemilu tahun depan. Negara-negara berkembang dibawa keluar untuk berinvestasi kembali di pasar saham “B” AS, termasuk Indonesia,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *