Maret 4, 2024

JAKARTA – Kementerian Bisnis Nasional (BUMN) resmi menggabungkan 13 perusahaan Holding Perkebunan Nusantara atau PTPN III menjadi dua perusahaan kecil yakni PalmCo dan SupportingCo. Pertemuan ini merupakan implementasi Program Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan untuk mencapai kemandirian khususnya di bidang ketahanan pangan dan energi.

Subholding PalmCo merupakan penggabungan VI dan XIII pada PTPN IV sebagai kelangsungan usaha dan bagian tidak murni dari PTPN III pada PTPN IV. Sedangkan Subholding SupportingCo dibentuk melalui penggabungan PTPN II, VII, VIII, IX, X, XI, XII dan XIV menjadi PTPN I.

“Tentunya setelah penandatanganan ini akan ada integrasi sistem, sumber daya manusia, operasional, keuangan, dan lain-lain, yang coba kami selesaikan dalam waktu enam bulan. Dan kita harus kembali fokus pada tugas kita yang berbeda,” kata Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo seperti dikutip, Minggu (3/12/2023).

Dikatakannya, PalmCo diharapkan menjadi perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia dari segi luas lahan, yang luasnya akan mencapai lebih dari 600.000 hektar pada tahun 2026, dan akan menjadi pemain utama dalam industri kelapa sawit dunia. PTPN diyakini dapat berkontribusi meningkatkan produksi CPO dan minyak goreng dalam negeri. PTPN memperkirakan produksi minyak goreng akan meningkat dari 460.000 ton per tahun pada tahun 2021 menjadi 1,8 juta ton per tahun pada tahun 2026.

Sedangkan SupportingCo akan menjadi perusahaan pengelola aset lapangan yang meliputi penyelenggaraan pemanfaatan aset lapangan melalui inventaris dan penjualan, pengelolaan hasil panen, diversifikasi usaha, serta bisnis lingkungan hidup yang dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Dia mengatakan pertemuan PTPN Group merupakan salah satu proyek yang dilaksanakan Departemen BUMN. Salah satu tujuannya adalah mensukseskan dan meningkatkan berbagai indikator keuangan dan kinerja perusahaan. Tindakan perusahaan PTPN Group, lanjutnya, merupakan perubahan total, termasuk perubahan sumber daya manusia.

Kartika juga menegaskan, ke depan para pekerja khususnya generasi milenial dapat menjadi pemain yang dipercaya dalam pengelolaan perusahaan kelapa sawit. “Jadi saya ingin perubahan yang dilakukan masyarakat terlihat nyata. Bagaimana perubahan ini bisa menjadikan PalmCo sebagai perusahaan kelapa sawit yang terdepan, tidak hanya on the farm tapi juga off the farm, untuk mampu menciptakan nilai di hilir, termasuk energi untuk pemanfaatan berkelanjutan terlebih dahulu,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *