Maret 4, 2024

kabarbinjai.com – Ulama Saudi, Syekh Asim Al Hakim baru-baru ini mengikuti Tabligh Akbar yang digelar di Masjid Al Jihad Maidan Baru pada Minggu 23 Juli 2023.

Saat mereka hendak menuju mimbar, Tuckbeard berkata kepada mereka yang hadir. Syekh Asim Al Hakim mengatakan setelah makan bahwa mengucapkan Takbir di masjid itu tidak sunnah, tidak diperbolehkan dan dianggap menghina masjid.

Ketika Rasulullah (damai dan berkah Allah besertanya) membuat wasiat, syekh menyuruhnya untuk tidak terlalu membuat keributan di masjid. Pernyataan Syekh Asim Al Hakim pun menimbulkan pertanyaan di internet tentang pengeras suara di masjid. Jadi apa hukumnya?

Dikutip dari NU Online, ada 7 dalil atau dalil ilmiah tentang kaidah penggunaan pengeras suara yang harus dipahami dari kitab Al-Mulkhash wal-Um Bin-A-Azzaan Nasi Bil-Makrafoon Haram (Peringatan Kepada Orang Bijaksana). dan dilarang memandikan orang dengan mikrofon karena mengganggu orang lain) oleh Seyyed Zain bin Muhammad bin Hussain Al-Dros, seorang profesor di Universitas Al-Ahfaf di Yaman. Alasan pemasangan pengeras suara di tempat ibadah

Pertama, banyak ayat dan hadits yang menyuruh Anda merendahkan suara saat berdoa, berdzikir, dan memohon. Contohnya adalah ayat surat Al-A’raf dan hadits ayat 205 yang artinya: Ingatlah Tuhanmu di dalam hatimu dengan khusyuk dan takut dan tanpa meninggikan suara, di pagi dan sore hari, dan janganlah kamu termasuk golongan orang-orang itu. . kelalaian.”

“Wahai manusia, kasihanilah dirimu sendiri dengan merendahkan suaramu saat bernyanyi. Sesungguhnya kamu tidak disebut tuli dan tunanetra. (HR Muslim)

Ayat dan hadis serupa dengan jelas memerintahkan manusia untuk merendahkan suara dalam shalat, dzikir dan shalat. Dan jelas melarang pekerjaan ini dengan sangat ketat.

Larangan ini juga mencakup penggunaan pengeras suara, apalagi jika dilakukan dengan volume maksimal sehingga memekakkan telinga dan mengganggu orang lain.

Kedua, pelarangan suara keras di masjid memiliki sejarah yang panjang. Sayyiduna Omar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan peringatan keras kepada dua suku yang bersuara di Masjid Nabawi.

“Jika Anda adalah penduduk Madinah, saya akan menghukum Anda. Anda bersuara di masjid Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian.” (Bukhari) Hal ini juga berlaku untuk masjid-masjid lainnya.

Ketiga, penggunaan speaker eksternal mengganggu konsentrasi ibadah dan aktivitas orang lain, kenyamanan orang, dan kenyamanan pasien. Menurut teks undang-undang ini dan konsensus para ilmuwan, mengganggu orang lain tidak diperbolehkan. Nabi berkata:

“Barangsiapa merugikan orang lain, maka Allah akan mendukakannya; dan siapa yang membebani orang lain, maka Allah akan membebaninya. (HR. Ibnu Majah dan Darqutni).

Alasan keempat, penggunaan pengeras suara eksternal, meski bermanfaat bagi jamaah masjid, namun di sisi lain mengganggu ketentraman masyarakat umum, selain jamaah masjid.

Kesejahteraan masyarakat luas harus diutamakan di atas kepentingan jamaah masjid. Kasus hukumnya menyatakan: فلا ترجه مشاهلهِ الْخشاِ علی مشاهلهِ علی الموس Tunjangan khusus tidak diperoleh” الموس.

Kelima: Muqtadeen Ali Jalbeel Mashalih Dar al-Mufasad atau menghindari keburukan hendaknya lebih penting daripada memberi manfaat.

Meskipun penggunaan pengeras suara eksternal juga mempunyai manfaat seperti mendengarkan teguran dan membaca Al-Qur’an, namun jika merugikan banyak orang, orang sakit, dan lain-lain, sebaiknya dibatasi sebagaimana semangat aturan ini. .

Klaim keenam, penggunaan pengeras suara eksternal untuk dakwah dan pembacaan Al-Qur’an terkadang menjadi pintu masuk riyah dan sama’ (menunjukkan dan mencari pujian), yang sebenarnya dilarang dalam agama. Nabi berkata:

Terjemahan: Siapa yang bertindak sedemikian rupa sehingga orang-orang mendengarkannya; Maka Allah akan mengungkapkan kejahatannya. Dan barangsiapa yang berbuat sedemikian rupa sehingga dilihat orang, maka Allah akan mengungkapkan musibahnya. (Bukhari dan Muslim).

Dalil terakhir atau ketujuh, penggunaan pengeras suara untuk berdzikir, berdoa, dan sebagainya, jauh dari ketenangan beribadah yang diwajibkan dalam agama. Nabi berkata:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan hati yang khusyuk dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Surah Al-A’raf ayat 77). Polisi Israel menggerebek kediaman imam Masjid Al-Aqsa, bangunan itu disebut ilegal. Kediaman imam di Masjid Al-Aqsa digerebek polisi Israel, bangunan itu disebut ilegal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *