Februari 26, 2024

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri plastik merupakan bagian dari sektor manufaktur yang peluang pasarnya cukup besar. Pasalnya, industri plastik dibutuhkan sebagai bahan baku berbagai industri lainnya dari atas hingga bawah.

Meskipun neraca perdagangan mengalami defisit, ekspor produk setengah jadi dan subsektor plastik meningkat sekitar 19,1% menjadi 1,31 miliar dolar AS pada tahun 2022.

Menko Airlangga mengatakan, kualitas produk lokal mampu bersaing secara global. Hal ini bisa dilihat dari produk-produk Moorlife Factory Enterprise yang berhasil masuk ke pasar ekspor.

“Saya berharap Moorlife dapat terus memperluas jaringan ekspornya,” tegas Menko Airlangga saat menghadiri pembukaan pabrik kedua Moorlife Factory Operation di Kabupaten Nganjuk secara virtual, Senin (4/12/2023).

Total kinerja ekspor produk kemasan makanan dan minuman Indonesia pada tahun 2022 mencapai nilai 37,8 juta dollar Amerika.

Moorlife sendiri berhasil mencatatkan ekspor senilai sekitar US$6 juta pada periode yang sama, atau 15,9% dari total bea pasca ekspor. Negara pengekspor antara lain negara ASEAN, Mozambik, India, Mali dan Mauritius.

Dilihat dari perekonomian daerah setempat, dari segi penyerapan tenaga kerja, industri plastik menyumbang 15,89% dari total tenaga kerja di Kabupaten Nganjuk. Dengan total nilai investasi sebesar Rp250 miliar, Menko Airlangga berharap Moorlife Nganjuk dapat menarik lebih banyak tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian Kabupaten Nganjuk.

“Saya mendorong Moorlife untuk terus melakukan sinergi dengan industri petrokimia atau bahan baku lokal, sehingga tentunya value chain industri polipropilen dan industri polietilen dapat terus berkembang,” kata Menko Airlangga.

Penghapusan cukai plastik hanya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi dan hanya menjadi beban bagi industri yang sedang tumbuh. Oleh karena itu, pemerintah perlu berhati-hati dalam menerapkan tarif cukai plastik ini.

Peneliti Ahmad Heri Firdaus dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, menurut kajian Indef, penghapusan cukai plastik akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, misalnya seharusnya naik hingga 6 persen. tapi karena kebijakan ini menjadi 5,9 persen, bukan 6 persen.

Artinya potensi pertumbuhan terbuang percuma, ujarnya, Selasa (28/11/2023).

Menurut perhitungan Indef, jika Pajak Konsumsi Khusus diberlakukan pada kemasan plastik, maka dampaknya tidak hanya berdampak pada industri kemasan plastik dan sejenisnya, tetapi juga sektor terkait yang menggunakannya, bahkan nilainya akan semakin tinggi. Misalnya, karena salah satu bahan produksi makanan dan kebutuhan sehari-hari adalah kemasan plastik, maka pengguna kemasan plastik FMCG juga akan terkena dampak ekonominya.

“Nah, sebagai pengusaha atau produsen, ketika terjadi kenaikan harga input, jika harga input naik, padahal itu akan diteruskan ke konsumen, maka diharapkan konsumen akan merespon dengan menyesuaikan konsumsinya, dan itulah akhirnya. industri hulu sudah meresponsnya,” katanya.

Ketika FMCG menghadapi kenaikan harga, salah satu input produksi atau bahan penolong akan merespon dengan melakukan penyesuaian berapa banyak yang harus diproduksi, berapa banyak tenaga kerja yang harus dipekerjakan, dan berapa besar keuntungan penjualannya.

“Oleh karena itu, akumulasi dampak tersebut akan menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Walaupun nilainya kecil, namun tetap mempunyai nilai yang besar bagi sektor di tingkat mikro. Nah, yang perlu dicermati lagi adalah berapa besaran penerimaan yang diterima pemerintah jika menerapkan SCT ini pada kemasan plastik. Saya yakin awalnya mungkin tidak sebesar itu, sekitar 1-2 triliun. “Tetapi kerugian dan dampak ekonominya lebih besar dari apa yang diterima pemerintah,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *