Maret 2, 2024

Liputan6.com, Batavia – Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan penerbitan Surat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai 104 penerbitan dari 56 penyedia EBUS. Total yang dibayarkan mencapai Rp 113,3 miliar.

“Hingga 24 November 2023, terdapat 13 pertanyaan dari 11 penyedia EBUS,” kata Direktur Evaluasi Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, tertulis kepada wartawan, Minggu (3/12/2023).

EBUS yang saat ini dalam pipeline dengan klasifikasi sektornya antara lain dua perusahaan dari sektor bahan baku, dua perusahaan dari sektor industri, dan lima perusahaan dari sektor keuangan. Lalu, satu perusahaan dari sektor infrastruktur, satu perusahaan dari peternakan dan perkebunan.

Selain itu, BEI juga mencatat terdapat 27 perusahaan atau emiten senilai Rp 39,7 triliun hingga 24 November 2023. Nyoman mencermati, masih ada 20 perusahaan dalam pipeline right issue BEI yang masing-masing mencakup satu perusahaan bahan baku. delapan perusahaan dari sektor konsumen siklis, empat perusahaan dari sektor konsumen non-siklus.

Terdapat empat perusahaan dari sektor industri, lima perusahaan dari sektor keuangan, satu perusahaan dari sektor infrastruktur, dan satu perusahaan dari sektor pengangkutan dan logistik. 10 Perusahaan Aset Jumbo Antri IPO

Sebelumnya diberitakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengindikasikan sejumlah perusahaan akan melakukan penawaran umum perdana (IPO).

Per 1 Desember 2023, ada 78 perusahaan yang beredar di BEI. Dana yang berhasil dihimpun IPO dari 78 emisi mencapai Rp 53,92 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan Gede Nyoman Yetna mengatakan saat ini ada 26 perusahaan yang tercatat di BEI. Dari sisi aset, perusahaan menengah masih mendominasi.

“Sejauh ini tercatat ada 26 perusahaan yang tercatat di BEI,” kata Nyoman kepada wartawan, Sabtu, 2 Desember 2013.

Merujuk POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat 10 perusahaan dengan aset terbesar di atas Rp 250 miliar. Kemudian 15 perusahaan dengan aset menengah antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan satu perusahaan dengan aset kecil di bawah Rp50 miliar.

Sedangkan rincian sektornya adalah sebagai berikut;

* 3 perusahaan dari sektor bahan baku

* 6 perusahaan dari kursus klinis

* 3 Perusahaan dari sektor konsumen non-siklus

* 2 Perusahaan dari sektor industri

* 1 Perusahaan sektor keuangan

* 1 Perusahaan tentang keamanan wilayah

* 4 perusahaan sektor industri

* 3 Pers dari sektor infrastruktur

* 0 Perusahaan berinvestasi di properti dan real estate

* 2 teknologi dari pengembang

* 1 Perusahaan dari sektor transportasi dan logistik

Diberitakan sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 204,14 triliun dengan tercatat 68 penerbitan baru hingga 27 Oktober 2023.

CEO Pasar Modal OJK, Pengawasan Derivatif dan Karbon, Inarno Djajadi mengatakan, penghimpunan dana di pasar modal masih tinggi. Bahkan, pengumpulan bulan Oktober mencapai target yang dibuat pada tahun 2023 yakni Rp 200 triliun.

Sementara itu, masih terdapat 97 pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif Rp 54,48 triliun, dimana 65 perusahaan berencana melakukan IPO emisi baru, kata Inarno dalam konferensi pers RDK OJK, Senin (30/10/2023). .

Masing-masing ada 65 perusahaan yang IPO di pasar modal dengan nilai triliunan Rp 11,34. Kemudian, PUT mencakup empat belas tender dengan nilai publik Rp 23,93 triliun.

Penerbitan EBUS sebanyak 12 kali dengan nilai Rp 16,01 triliun dan sisa penerbitan PUB-EBUS sebanyak 6 perusahaan dengan nilai Rp 3,20 triliun.

Sedangkan untuk penggalangan dana dalam Securities Crowdfunding (SCF) yang merupakan pembiayaan UKM kedua hingga 27 Oktober 2023, terdapat 16 promotor yang telah mengantongi izin dari OJK dengan 467 penerbitan, 164.210 investor dan total dana. Rp 1,01 miliar.

Sebelumnya diberitakan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat arus keluar modal atau penanaman modal asing sebesar Rp6,37 miliar hingga 27 Oktober 2023. Angka tersebut meningkat dari Rp4,06 miliar pada akhir September 2023.

Efek Utama Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Prakiraan Karbon OJK, Inarno Djajadi mengatakan, seiring dengan energiisasi pasar saham global, pasar Indonesia per 27 Oktober 2023 melemah 2,61 persen year to day (mtd) ke level 6.758,79, dimana September 2023 6.939,89.

“Dalam sebulan tercatat ada aliran non-residen sebesar Rp6,37 triliun,” kata Inarno dalam konferensi pers RDK OJK, Senin (30/10/2023).

Sejalan dengan aliran uang asing, Indeks Harga Saham Gabungan juga tertekan. Secara year-to-date (ytd), IHSG melemah 1,34 persen dengan penjualan bersih non residen sebesar Rp 11,61 miliar dibandingkan penjualan bersih September 2023 sebesar Rp 5,24 triliun ytd.

Dari sisi likuid, rata-rata volume transaksi pasar pada Oktober 2023 turun menjadi Rp10,32 triliun mtd dan ytd dari Rp10,47 triliun dibandingkan September 2023 yaitu Rp11,36 triliun dan juga Rp11,49 triliun YTD.

Sejalan dengan tren global, pasar SBN hingga akhir Oktober 2023 mencatatkan outflow investor asing sebesar Rp13,63 triliun secara mtd dibandingkan dengan outflow September 2023 sebesar Rp23,3 triliun. Sementara pasar obligasi melemah 1,38 persen mtd, namun secara ytd masih menguat 4,45 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *